Senin, 11 April 2011

Berpastoral Lewat Internet

Data Buku:

Judul : Merasul Lewat Internet, Kaum Berjubah dan Dunia Maya

Penulis : Reynaldo Fulgentio Tardelly SX

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2009

Tebal : 176 halaman


”Kita diutus ke tengah serigala. Pendek kata, dunia dalam abad teknologi, khususnya internet, adalah locus theologicus di mana kita merefleksikan iman kita pada Allah, tempat kita bisa tetap mempertanggungjawabkan iman kita.” (hal.95) Kalimat ini merupakan kutipan dari salah satu paragraf yang terdapat dalam buku yang mencoba mendaratkan tantangan sekaligus panggilan nyata kaum berjubah berhadapan dengan perkembangan dunia teknologi ini.


Kehadiran internet sebagai salah satu hasil dari perkembangan manusia di bidang teknologi sudah merambah di berbagai tempat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Demikian pula dalam Gereja, kehadiran internet juga sudah menjangkau semua anggota Gereja, baik di kalangan umat maupun para klerus dan religius. Dalam hal ini, buku ini lebih menyoroti kehadiran internet di tengah-tengah kaum religius.


Banyak kesan yang muncul sehubungan dengan masuknya internet ke dalam biara. Pada awalnya, kesan yang muncul lebih bernada negatif dengan berbagai alasan yang cukup masuk akal. Kesan negatif yang muncul itu umumnya dilatarbelakangi oleh anggapan bahwa internet merupakan barang duniawi yang hanya akan mengganggu persembahan diri para religius. Sebab itu, internet masih dianggap tabu di kalangan religius. Akan tetapi kesan itu semakin melunak, terlebih dengan berbagai segi positif yang didapatkan dari internet. Banyak kaum religius saat ini menggunakan internet sebagai penunjang karya mereka.


B
uku ini mencoba menyajikan pengalaman penulis berhadapan dengan internet yang dibagi dalam lima bagian. Pertama disajikan sejumlah informasi tentang internet. Kedua disajikan sebuah tinjauan kritis terhadap internet sebagai sebuah dunia baru yang mempengaruhi pengalaman manusia, yang mencakup aspek positif-negatif serta tantangannya. Pada bagian ketiga, penulis mencoba melihat sebuah peluang baru dari internet sebagai sebuah sarana kerasulan bagi para religius. Keempat, penulis menawarkan kiat-kiat praktis dan strategis melalui manajemen proyek website sebagai sarana pewartaan iman dan kerasulan. Dan pada bagian akhir, penulis mengungkapkan pengalaman pribadinya dalam memanfaatkan internet sebagai sarana pewartaan iman. Akhirnya diharapkan bahwa kehadiran internet bukan lagi menjadi sebuah hambatan bagi pewartaan iman, khususnya kaum berjubah, melainkan sebuah peluang besar bagi pewartaan kabar gembira. (St Sigit Pranoto SCJ)

*Dimuat dalam Majalah Utusan No.01 Tahun ke-60, Januari 2010, halaman 31

Mencari Tuhan dalam Teknologi Modern Data Buku:

DATA BUKU:

Judul Buku : www.god.co.id

Penulis : JAM’S (Jesuit Awet Muda Selalu)

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2009

Tebal : 180 halaman

“Anak zaman ini terbiasa menjadikan apa yang mereka miliki lebih personal. Komputer, cell-phone, ipod dimodifikasi tampilan dan isinya sehingga lebih mencerminkan kepribadian mereka. Jutaan orang muda tidak hanya mengakses web, tetapi mereka juga menciptakan isi. Cell-phone adalah perpanjangan hidupku, cermin siapakah diriku. Seperti tas cantik, ia mengungkapkan kepribadianku ….” (61).

Paragraph di atas merupakan cukilan paragraph dari salah satu artikel yang ada di cover belakang buku “www.god.co.id” terbitan Kanisius ini. Buku ini merupakan kumpulan sepuluh artikel para Jesuit yang menamakan dirinya kelompok JAM’s, yang merupakan kepanjangan Jesuit Awet Muda Selalu. Kesepuluh artikel yang ada di dalam buku ini merupakan tanggapan tentang dinamika pemikiran para Jesuit terhadap hidup kaum muda. Terbitnya buku ini berawal dari sebuah keprihatinan, kepedulian serta dukungan para Jesuit, yang pada tahun ini memperingati 150 tahun di Indonesia, terhadap reksa pastoral kaum muda Indonesia dalam menghadapi globalisasi dan kemajuan teknologi.

Judul buku www.god.co.id ini tak asing lagi bagi dunia kaum muda yang disebut-sebut sebagai net-generation oleh Don Tapscott, seorang penulis yang bukunya dijadikan acuan di dalam Generasi Net: Generasi Hedonis, Narsis? salah satu artikel yang ada dalam buku ini (55-67). www.god.co.id merupakan istilah yang ada dalam dunia per-website-tan sehingga bukanlah hal yang asing terdengar.

Ditulis dengan gaya bahasa khas anak muda, buku ini mengajak para pembaca, khususnya kaum muda untuk berpikir kritis terhadap perkembangan dunia teknologi. Kesepuluh artikel disusun sedemikian rupa sehingga nampak sebuah dinamika perjalanan secara kronologis: mulai dari adanya kesadaran akan adanya zaman baru dengan sihir teknologinya yang menciptakan sebuah generasi baru ’net-generation’, gaya hidup modern dengan pernak-pernik dan pendukung fiturnya, pengalaman bervibrasi yang dialami, hingga di akhir perjalanan itu pembaca diajak untuk kembali kepada Sang Event Organizer Sejati. Pada bagian akhir disajikan pandangan ’unik’ anak Kolese Jesuit terhadap kemajuan teknologi informasi dan peralatan pendukungnya, sebagai sebuah gambaran bagi pembaca bagaimana kaum muda ini menggunakan berbagai hasil kemajuan teknologi saat ini. (St Sigit Pranoto SCJ)

*Dimuat dalam Majalah HIDUP, 30 Agustus 2009, halaman 25.

Allah dan Teknologi bagi Net-Generation


Data Buku:

Judul Buku : www.god.co.id

Penulis : JAM’S (Jesuit Awet Muda Selalu)

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2009

Tebal : 180 halaman

Orang muda mana pada saat ini yang tidak mengenal handphone (HP), komputer, entah yang dekstop maupun laptop, game devices seperti PS2, PSP, Wii, Nintendo, iPod ataupun iPhone? Rasanya orang muda sekarang begitu akrab dengan gadget yang sudah disebutkan itu. Kemana pun mereka pergi gadget tersebut selalu mengiringi langkah mereka.boleh dikata itulah ”roh kedua” bagi orang muda zaman ini. Jika dalam sehari mereka tidak menggunakan gadget, dunia seakan kiamat dan terasa ada yang kurang dalam kehidupan ini. Tanpa kehadiran gadget tersebut kehidupan serasa sunyi tanpa arti..... (20-21).

I
tulah sedikit cukilan yang ada di salah satu artikel dalam buku www.god.co.id yang merupakan kumpulan sepuluh artikel terhadap dinamika kaum muda berhadapan dengan perkembangan teknologi. Kaum muda oleh Don Tapscott, seorang penulis yang bukunya dijadikan acuan di dalam Generasi Net: Generasi Hedonis, Narsis? salah satu artikel yang ada dalam buku ini (55-67), disebut sebagai Net-Generation.
Generasi ini meliputi mereka yang lahir antara tahun 1978 – saat ini. Generasi ini adalah generasi yang tumbuh dikelilingi oleh media digital.

Berbagai keprihatinan dan kritik dituai oleh generasi ini. Berbagai cap diberikan dan seolah-olah segalanya buruk.
Kritik berasal dari berbagai kalangan, termasuk di dalamnya kalangan agama. Umumnya kalangan agama menilai bahwa adanya kemajuan teknologi membuat orang-orang zaman sekarang semakin menjauhi Allah. Satu contoh klasik yang seringkali dilontarkan adalah semakin sedikitnya kaum muda yang pergi ke gereja. Namun, benarkah perkembangan teknologi itu sungguh menjauhkan generasi sekarang menjauhi Allah?

Kesepuluh artikel dalam buku ini mencoba menjawab keprihatinan ini. Ditulis dengan gaya bahasa khas anak muda, buku ini mengajak para pembaca, khususnya kaum muda untuk berpikir kritis terhadap perkembangan dunia teknologi. Kesepuluh artikel disusun sedemikian rupa, sehingga didapatkan sebuah urutan kronologis cara berpikir yang lebih kritis. Sedikitnya terdapat lima tahap proses menuju sebuah kesadaran dalam bersikap terhadap perkembangan teknologi, yang dapat kita ambil dari kesepuluh artikel setelah kita membacanya secara berurutan.


Pertama, kesadaran akan adanya zaman baru. Disadari atau tidak, perkembangan teknologi membawa sebuah gaya hidup dan spiritualitas yang baru bagi kehidupan manusia. Adanya perubahan ini perlu disadari oleh semua orang, tanpa terkecuali – baik mereka yang masuk dalam kategori net-generation maupun tidak.


Setelah kita menyadari adanya zaman baru dengan segala macam aspek positif-negatifnya, kita juga perlu menyadari adanya tantangan dalam zaman baru itu. Inilah tahapan kedua, yakni kesadaran akan tantangan yang diakibatkan kemajuan teknologi itu. Teknologi seakan menyihir kehidupan manusia. Dunia berubah, bahkan perubahan yang terjadi dirasakan sedemikian cepat. Banyak segi kehidupan manusia seakan tergantikan oleh adanya perkembangan teknologi. Misalnya, reklame yang dengan begitu menarik menawarkan berbagai sarana untuk kemudahan manusia. Kita ditawari berbagai hal agar hidup di zaman ini tak perlu susah-susah, termasuk nggak usah mikir. Berpikir dianggap sebagai sebuah pemborosan waktu. Akibatnya kita pun menjadi terbiasa santai. Inilah sihir teknologi yang menantang kita untuk lebih kreatif dalam menghadapinya.


Berbagai tawaran menarik dari teknologi tersebut mau tidak mau kita harus menghadapi secara bijak. Supaya tidak terperosok di dalamnya, kita perlu secara cermat memanfaatkannya. Kita juga perlu menyadari siapa diri kita berhadapan dengan teknologi itu. Teknologi merupakan sarana dan bukan tujuan dari hidup kita. Sebagai net-generation, kita pun perlu menyadari hal ini. Inilah tahap penting ketiga, kesadaran akan identitas diri berhadapan dengan teknologi.


Setelah menyadari identitas diri kita berhadapan dengan teknologi, kita pun perlu menyadari potensi yang ada dalam diri kita. teknologi seringkali justru melemahkan diri kita, terlebih saat kita mulai tergantung sepenuhnya pada benda-benda itu. Akibatnya, kita justru menjadi budak dari teknologi itu sendiri, seolah-olah tanpa kehadiran teknologi dunia kita menjadi hancur. Di sinilah kita perlu menyadari bahwa teknologi itu adalah ciptaan kita, bukan mereka yang menciptakan dunia kita. Kita ditantang untuk lebih produktif melalui berbagai sarana teknologi itu. Inilah tahap keempat dari proses hidup kita berhadapan dengan teknologi.


Gebrakan besar teknologi yang dikhawatirkan akan menjauhkan manusia dengan Allah sebenarnya tak perlu dicemaskan apabila setiap orang mempunyai kesadaran bahwa di balik semua kecanggihan teknologi itu ada satu hal yang tak dapat dijangkau. Dialah Allah, Sang Event Organizer. Kendati pun segala macam kebutuhan manusia nampaknya telah dipenuhi oleh kehadiran teknologi, akan tetapi di satu sisi manusia tidak bisa lepas dari Allah. Kesadaran inilah yang paling penting untuk dimiliki setiap orang. Kita mesti menyadari bahwa sehebat-hebatnya teknologi, masih ada yang mengunggulinya.

Itulah tahap kelima dari proses perjalanan yang ditawarkan dalam buku ini, dengan harapan bahwa kita akan semakin menyadari kehidupan kita berhadapan dengan berbagai kemajuan teknologi saat ini. (St Sigit Pranoto SCJ)

Pakai Jubah? Siapa Takut…….!!?

Data Buku:

Judul Buku : Pakai Jubah? Ceileee!

Tim Penulis : Seminaris, Postulan, Novis

Kata Pengantar : Mgr. I. Suharyo

Cetakan : I, 2008

Penerbit : Kanisius

Begitu banyak kisah panggilan seorang yang terpanggil untuk menjadi imam atau pun biarawan/biarawati. Dari sekian banyak kisah panggilan itu, terungkap beragam cara Allah dalam memanggil orang-orang yang dikehendaki menjadi alat-Nya. Dari sekian banyak cara yang digunakan Allah, peristiwa-peristiwa hidup harian menjadi sarana yang paling nyata dirasakan oleh orang-orang yang merasa diri ”dipanggil” itu.

Seringkali panggilan Allah dikatakan sebagai suatu misteri yang tak dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Tak ada orang yang dapat menebaknya. Bahkan seringkali panggilan Allah itu dirasa aneh dan unik. Sesuatu yang tak mungkin bagi manusia, namun tak demikian bagi Allah. Jika Allah menghendaki, maka segalanya akan terjadi. Demikian pula dengan panggilan hidup menjadi imam atau pun biarawan/biarawati.


Coba bayangkan, siapa menyangka bahwa seorang gadis tomboy dan keras kepala merasa terpanggil untuk menjadi suster? Atau, mungkinkah seorang pemuda yang telah berganti-ganti pacar tiba-tiba mau menjadi seorang bruder? Akan menjadi suster/bruder macam apakah mereka ini? Nampaknya hal ini menjadi sesuatu yang mustahil jika hanya kita pikirkan dengan akal. Satu hal yang perlu kita yakini, bahwa Allah tak memandang latarbelakang orang-orang pilihan-Nya, entah kaya atau miskin, tekun atau pun ”ngos-ngosan” dalam beriman, rajin berdoa atau pun kalau terpaksa.


Seringkali kita menganggap bahwa kaum terpanggil adalah orang yang belatarbelakang serba positif dalam beriman, tekun mengikuti kegiatan menggereja, atau pun yang dipandang suci dalam hidupnya. Anggapan ini tidak seluruhnya benar karena ada juga orang-orang yang mempunyai latarbelakang yang sebaliknya pun dipanggil oleh Allah untuk menjadi imam, biarawan dan biarawati. Anggapan ini seringkali menjadi hambatan bagi berkembangnya benih-benih panggilan. ”Masak tampang urakan produk kehutanan kayak gini mau jadi suster? Ya nggak mungkinlah!” (49).


Motivasi awal yang muncul dari diri seorang yang terpanggil bermacam-macam. Ada yang berawal dari hal-hal sederhana yang nampaknya begitu sepele, namun juga ada yang sungguh merupakan motivasi murni yang digerakkan oleh pengalaman iman seorang yang terpanggil. Keduanya menjadi sarana panggilan Allah. Bagi diri si terpanggil, motivasi awal itulah yang menjadi titik tolak untuk menjawab panggilan Allah.


Pengalaman terpanggil inilah yang dikisahkan oleh para seminaris, postulan dan novis dalam buku ini. Seringkali pengalaman terpanggil ini dirasakan aneh, tak masuk akal, namun juga membahagiakan. Bahkan sering terasa lucu kalau dikisahkan. Dari sekian banyak kisah, pengalaman manusiawi yang dialami oleh masing-masing penulis menjadi titik tolak panggilan hidup mereka. Ada yang merasa terpanggil karena pernah diberi permen oleh seorang suster, diajak kunjungan oleh pastor, kekaguman terhadap wibawa seorang bruder, atau bahkan berasal dari pengalaman menyakitkan seperti putus cinta dan kegagalan. Inilah sarana yang digunakan Allah untuk menaburkan benih-benih panggilan kepada mereka.


Dikisahkan pula beberapa hambatan yang membuat mereka putus asa. Hal yang seringkali menjadi hambatan adalah benturan dengan kehendak orang tua dan keluarga. Di satu sisi panggilan Allah dirasakan begitu kuat, namun sisi lain tak mengijinkan dengan berbagai macam alasan. Dan inilah yang sering menjadi hambatan bagi tumbuh berkembangnya panggilan Allah. Maka dukungan keluarga pun sangat dibutuhkan dalam menjawab panggilan Allah. ”Kowe arep dadi suster? Ora usah, eman-emanlah. Manis-manis kok malah dadi suster, lagian urip ki mung sepisan.” ”Nah... justru yang manis itu untuk Tuhan, masak Tuhan diberi yang jelek-jelek terus......” (105).


Dengan bahasa yang sederhana dan menarik, para penulis mengisahkan pengalaman panggilan mereka. Oleh sebab itu kendati sudah banyak buku-buku serupa, buku ini tak kalah menariknya. Kisah sederhana namun memiliki arti penting untuk membuka pemikiran banyak orang yang seringkali jatuh dalam pandangan sempit akan panggilan Allah. Kisah-kisah yang ada dapat juga digunakan sebagai bahan aksi panggilan bagi anak-anak. Selain itu dapat juga digunakan untuk menumbuhkan keterbukaan hati orang tua dalam peran serta mereka menumbuhkan panggilan dalam diri anak-anak mereka. (St.Sigit Pranoto, SCJ)

Tak Kenal Maka Tak Sayang


Judul buku : Kegilaan Orang-Orang Galilea

Penulis : Surip Stanislaus, OFMCap

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2008


“Siapakah orang-orang Galilea yang seberuntung itu? Sejauh mana hubungan mereka dengan Yesus? Mengapa mereka gila-gilaan mengikuti Yesus, sehingga mau mati demi Yesus?” (5) Demikianlah kata pembuka yang diungkapkan oleh penulis tentang garis besar keseluruhan isi buku ini. Buku ini dimaksudkan sebagai media untuk mengenal lebih dekat para rasul Yesus itu dengan berbasis pada Kitab Suci dan berbagai tradisi.

Kiranya ungkapan ”tak kenal maka tak sayang” ini cocok dengan maksud penulisan buku setebal 120 halaman ini. Melalui buku ini, penulis mengajak pembaca untuk mengenal lebih jauh para rasul yang menjadi tonggak awal kehidupan Gereja. Para Rasul yang dipilih secara khusus oleh Yesus menjadi peletak dasar iman Kristiani. Oleh karena itu untuk memahami dan menyayangi lebih mendalam iman Kristiani, perlu juga memahami tokoh-tokoh awal yang secara khusus dipilih oleh Yesus.


Dalam Kitab Suci dan tradisi Kristiani dikenal duabelas nama disebut rasul, yakni: Simon Petrus, Andreas, Yakobus Zebedeus, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus Alfeus, Yudas Tadeus, Simon Orang Zelot, dan Yudas Iskariot. Keduabelas orang inilah yang secara langsung dipilih oleh Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas). Mereka secara khusus dipilih untuk mengikuti Yesus dalam karya-Nya. Mereka juga dipanggil dalam latar belakang yang berbeda satu sama lain. Maka tak mengherankan kalau Yudas Iskariot akhirnya menghianati Yesus, yang antara lain disebabkan latar belakang dirinya.


Bilangan ”duabelas rasul” tetap dipertahankan setelah Yudas Iskariot ’keluar’ dari bilangan itu. Dalam Kis 1: 15-26 dikisahkan bagaimana pergantian posisi Yudas Iskarot kepada Matias, untuk mempertahankan bilangan ”duabelas rasul”. Lalu, siapakah ketiga belas nama yang disebut sebagai rasul itu? Bagaimana latarbelakang mereka masing-masing? Apa peran mereka bagi Gereja?


Buku ini terdiri dari dua bagian besar. Pada bagian pertama penulis mengajak pembaca mengenal dahulu beberapa tempat penting di mana Yesus pernah berkarya bersama para rasul (11-28).
Bagian kedua, para pembaca diajak untuk mengenal masing-masing pribadi para rasul itu. Pada bagian kedua ini, penulis menggunakan pola yang sama dalam memperkenalkan pribadi masing-masing rasul, yaitu: identitas diri, karya kerasulan, serta refleksi dan aksi.

Pertama, identitas diri. Pada bagian ini, penulis memperkenalkan identitas diri para rasul secara mendetail. Istilah nama, gelar, asal-usul, kisah panggilan serta sifat masing-masing rasul dijelaskan oleh penulis, bersumber pada kitab suci dan tradisi. Penjelasan ini sangat membantu pembaca karena tidak semua rasul disebutkan secara lengkap dalam kitab suci.

Kedua, karya kerasulan. Dalam kitab suci karya kerasulan masing-masing rasul tidak diwartakan secara lengkap.
Maka tak jarang bahwa begitu banyak umat kristiani yang tidak tahu apa peran masing-masing rasul dalam mewartakan iman Kristiani. Pada bagian ini dijelaskan bagaimana karya masing-masing rasul dalam perutusan mereka serta karya misioner masing-masing rasul dalam melaksanakan amanat Yesus untuk ’pergi ke seluruh dunia’. Dijelaskan pula bagaimana kemartiran mereka dalam tugas perutuan masing-masing.

Ketiga, refleksi dan aksi. Setelah diajak mengenal pribadi masing-masing rasul, pembaca diajak untuk merefleksikan hidupnya sebagai orang Kristiani. Bercermin dari pribadi masing-masing rasul, penulis mengajak pembaca untuk merefleksikan diri dan akhirnya menjalankannya dalam aksi (hidup sehari-hari). Bantuan pertanyaan reflektif yang diajukan oleh penulis kiranya dapat membantu permenungan pembaca.


Selain penjelasan dalam buku ini juga disediakan gambar-gambar baik tentang tempat atau pun gambar tentang para rasul. Dengan ilustrasi ini pembaca semakin terbantu untuk mengenal setiap detail yang ada dalam buku ini.


Di akhir buku ini, penulis mengutip sebuah doa ’misi’ yang cukup indah. ”Ya Tuhan, tiada cukup kami hanya berdoa padaMu untuk mengakhiri peperangan, sebab kami tahu, dunia ini telah Kauciptakan sedemikian rupa, sehingga manusia harus menemukan jalannya sendiri menuju perdamaian dalam dirinya sendiri dan dalam diri sesamanya. ..................... Maka, kami berdoa padaMu, ya Tuhan, berilah kami kekuatan, keberanian dan niat yang kuat untuk berbuat dan bukan hanya meminta, untuk menjadi dan bukan hanya berharap belaka. Amin.” (99-101). (St.Sigit Pranoto, SCJ)

MARI BERSYUKUR!

Data Buku:

Judul : Gracias! Catatan Harian di Amerika Latin

Penulis : Henri J.M. Nouwen

Penerbit : Kanisius

Cetakan : 1, 2007

Tebal : 292 halaman

Gracias a usted, gracias a Dios, muchas gracias!

Terima kasih, terima kasih kepada Allah, banyak terima kasih!

Ungkapan inilah yang menjadi kesimpulan atas semua pengalaman Henri J.M. Nouwen dalam peristiwa-peristiwa hidup yang ia alami, khususnya dalam pergulatan panjangnya mencari jawaban atas pertanyaan “Apakah Allah memanggil saya untuk hidup dan bekerja di Amerika Latin pada tahun-tahun yang akan datang?”

Enam bulan berkarya sebagai misionaris di Peru, melalui perjumpaan dengan orang-orang yang dilayaninya, teristimewa orang-orang miskin dan lapar, anak-anak terlantar, orang-orang muda yang tak punya uang, pekerjaan atau tempat tinggal yang layak; menghantarnya pada jawaban akan pertanyaan di atas, yang merupakan kunci utama dari setiap peristiwa yang ia alami. Ia terus-menerus mencari jawaban atas pertanyaan tersebut dengan merefleksikan setiap pengalaman yang terjadi setiap hari, sampai pada akhirnya ia menemukan jawaban yang sesungguhnya.

Gracias! Terima kasih! Kata inilah yang menjadi jawaban atas pertanyaan yang terus-menerus ia refleksikan. Memang tak mudah baginya untuk menyimpulkan jawaban itu sebagai jawaban yang sesungguhnya. Namun hal yang membuat dirinya yakin akan jawaban itu sebenarnya hanya masalah sepele. “Kata yang terus menerus saya dengar ke mana pun saya pergi adalah Gracias! Kata itu rasanya seperti refrain suatu balada panjang yang terdiri dari berbagai peristiwa …… Saya melihat ribuan anak miskin dan lapar, saya bertemu dengan orang-orang muda baik laki-laki maupun perempuan yang tidak punya uang, pekerjaan atau tempat tinggal yang layak……...Namun di tengah-tengah ini semua, kata itu terus mengangkat saya semakin tinggi sampai pada tataran baru untuk memandang dan mendengar: Gracias! Terima kasih!” (hal.289).

Buku ini berisikan buah refleksi dan catatan Henri J.M. Nouwen selama ia berkarya selama enam bulan di Peru, yang terhitung sejak 18 Oktober 1981 sampai 29 Maret 1982. Secara terbuka ia mencoba menuangkan setiap pengalaman harian yang ia alami, perjumpaan dengan orang lain, atau pun pengalaman rohani yang ia alami. Tak hanya pengalaman indah dan menyenangkan yang ia sharingkan, namun juga beberapa pengalaman buruk atau pun down dalam menjalani hidup panggilannya, kesulitannya mempelajari bahasa Spanyol yang hampir membuat dirinya frustasi. “Saya frustasi karena saya melakukan kesalahan yang sama seperti yang saya buat sembilan tahun yang lalu dan terus merasa bahwa sebenarnya saya harus sudah jauh lebih maju karena dulu saya pernah berminggu-minggu dan berbulan-bulan belajar bahasa Spanyol” (hal.45). Semuanya itu dikemas dalam buku hariannya.

Secara runtut Henri menuliskan pengalaman hidupnya sebagai seorang misionaris. Tiga bulan pertama ialah pengalamannya belajar bahasa Spanyol dan juga perjumpaannya dengan orang-orang yang ia kunjungi.sedangkan tiga bulan berikutnya adalah pengalamannya berkarya di tengah umat, di mana situasi masyarakat dunia sedang terjadi kekacauan, perang, dan konflik.

Namun dalam buku ini juga ada beberapa kekurangan, yang bisa menimbulkan pertanyaan dalam diri pembaca. Setidaknya ada sepuluh hari yang tidak tercatat dalam Catatan Harian ini. Pertanyaan yang mungkin timbul dalam diri pembaca yakni: Apakah yang terjadi dalam diri Henri sehingga ia tak mencatat pengalamannya? Apakah ada yang ia rahasiakan dari pengalaman hariannya? Atau, mungkinkah redaktur melewatkannya?

Kendati ada beberapa kekurangan, namun catatan-catatan yang ia tuangkan tidak membuat jemu para pembaca. Setiap hari ada hal baru yang ditemukan, dilihat, dialami, dan akhirnya direfleksikannya. Salah satu contoh kocak yang ditulisnya sebagai berikut:

“Seorang biarawati yang sudah beberapa lama tinggal di Lima menerima tamu seorang temannya. Suatu sore, ketika kawan ini ingin berbelanja di pasar, tuan rumahnya yang sudah berpengalaman itu berkata, ‘Hati-hatilah di bus dan di pasar. Sebelum kamu menyadarinya, mereka akan merampas uangmu, tas tanganmu dan jam tanganmu. Lepaskan jam tanganmu dan simpanlah dalam tas tanganmu, lalu ikatkan erat-erat tas tangan itu pada lenganmu.’ Dengan peringatan itu, Suster itu berangkat. Bus amat penuh seperti biasanya dan dia harus berdesk-desak untuk masuk, sambil terus awas akan kemungkinan adanya perampok di sekitarnya. Ketika bus mulai berjalan dan Suster itu berpegang pada gantungan untuk menjaga keseimbangannya, tiba-tiba ia melihat bahwa jam tangannya dipakai di lengan seorang muda yang bersandar padanya.” (hal.199). Suster itu pun dengan marah meminta jam tangan itu. Sontak orang muda yang ketakutan itu memberikan jam itu padanya. Sekembalinya di rumah, Suster itu pun kaget karena jam tangannya masih ada di dalam tas tangannya sehingga ia kini mempunyai dua buah jam tangan. Tanpa disadarinya, Suster itu telah merampok jam tangan orang muda dalam bus itu.

Akhirnya semua pengalaman yang ia tuangkan dalam Catatan Hariannya membawanya pada suatu refleksi atas semua pengalamannya berkarya sebagai misionaris, yakni suatu panggilan untuk bersyukur. Syukur atas segala peristiwa yang terjadi dan atas anugerah-anugerah yang ia terima. Baginya, rasa syukur itu dapat membantu kita untuk “merobohkan tembok-tembok kebenaran diri individual maupun kolektif dan dapat mencegah kita untuk menghancurkan diri kita sendiri dan bumi kita dalam usaha sia-sia untuk bertahan pada apa yang kita anggap milik kita sendiri” (hal.291). (St Sigit Pranoto SCJ)

*Dimuat di Jubelium - Keuskupan Surabaya, September 2007

Menyelami Misteri Natal Data Buku:

Judul : Rahasia di Balik Kisah Natal 2

Penulis : Surip Stanislaus, OFM Cap

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2007

Tebal : 88 halaman

Natal merupakan salah satu peristiwa iman yang dirayakan oleh umat Kristiani di seluruh dunia. Perayaan ”firman menjadi manusia’ (Yoh 1:14) ini menjadi salah satu perayaan besar yang dirayakan oleh umat Kristiani. ”Firman menjadi manusia” ini pada rumusan teologis selanjutnya disebut peristiwa inkarnasi. Secara populer kini peristiwa ini lebih dikenal dengan sebutan natal (natus = lahir).

Mungkin banyak orang bertanya-tanya, mengapa peristiwa agung ini hanya diceritakan begitu singkat dalam Kitab Suci, teristimewa dalam Injil. Bahkan dari keempat injil yang ada, hanya Matius dan Lukas yang menceriterakan secara cukup mendetail tentang peristiwa kelahiran Yesus, yang adalah Sang Firman dalam gambaran Injil Yohanes. Bagaimana pun peristiwa Kelahiran Yesus yang hanya dikisahkan secara singkat oleh Injil, tak akan mengurangi keyakinan (iman) kita akan Yesus sebagai Tuhan setelah kebangkitanNya, karena yang menjadi pangkal tolak iman Kristiani pertama-tama adalah pengalaman kebangkitan Yesus.

Buku dengan tebal 88 halaman ini memberikan gambaran tentang peristiwa Kelahiran Yesus dan peristiwa di sekitarnya dari perspektif Injil Lukas dan Yohanes. Dalam perspektif Lukas, penulis pertama-tama mengajak pembaca untuk melihat peristiwa kalahiran Yohanes Pembabtis sebagai awal mula karya Penyelamatan Allah. Berbagai latar belakang tentang peristiwa kelahiran Yohanes digambarkan secara detail, termasuk dengan situasi sosial dan religius masyarakat Yahudi.

Gambaran situasi sosial menjelaskan bagaimana pandangan sosial terhadap seorang wanita yang mandul. Pandangan sosial ini sekaligus dipengaruhi oleh pandangan religius masyarakat Yahudi, yang meyakini bahwa sebuah keluarga yang tak memiliki keturunan dianggap terkutuk oleh Allah. Pandangan ini amat melekat pada masyarakat Yahudi waktu itu, termasuk juga Zakharia yang juga meyakini hal ini. Keyakinan ini berakibat pada keraguannya akan warta yang diberikan oleh malaikat bahwa isterinya, Elisabeth yang sudah tua, akan mengandung. Ketidakyakinan inilah yang mengakibatkannya menjadi bisu sampai anak yang dikandung Elisabeth lahir.

Kelebihan dari buku ini adalah penulis tak hanya memberikan gambaran dari satu perspektif saja. Dalam peristiwa kelahiran Yohanes dan peristiwa-peristiwa lainnya, penulis mencoba menjelaskan seluruh peristiwa dengan membandingkannya dengan sejarah keselamatan Israel dalam Perjanjian Lama. Penulis melihat kembali peristiwa-peristiwa serupa yang turut mempengaruhi pandangan masyarakat Yahudi. Di sinilah salah satu keunggulan dari buku ini sehingga pembaca diajak membuka cakrawala berpikir mereka dari berbagai segi.

Sesudah menghantar pembaca pada peristiwa kelahiran Yohanes Pembabtis sebagai bagian dari rangkaian karya penyelamatan Allah, penulis mengajak pembaca pada peristiwa kelahiran Yesus. Dijelaskan pula latar belakang sosial-religius masyarakat dalam peristiwa kelahiran Yesus itu, antara lain kebiasaan mengunjungi saudari yang lebih tua yang sedang mengandung (bdk. Kisah Maria mengunjungi Elisabeth dalam Lukas 1:39-56). Dalam penjelasan tentang peristiwa kelahiran Yesus ini juga diberikan latar belakang situasi politik yang terjadi waktu itu. Kelahiran Yesus sebagai Penyelamat, Pembawa Damai (Pax Christi) diperbandingkan dengan kekuasaan Kaisar Agustus yang mempropagandakan dirinya sebagai pembawa damai dalam kekaisarannya (Pax Augustae). Demikian seluruh gambaran kelahiran Yesus dijelaskan cukup mendetail sampai pada masa kanak-kanak Yesus, di mana Ia berdebat dengan para alim ulama di Yerusalem. Singkatnya, penulis ingin mengajak pembaca untuk melihat latar belakang di balik peristiwa-peristiwa itu dan mengajak pembaca melihat karya Allah dibalik peristiwa itu semua.

Dari perspektif Yohanes, penulis menjelaskan kisah yang seringkali sulit dipahami oleh umat, yakni kisah seputar ”Firman menjadi manusia” (Yoh 1:1-18). Pertama-tama penulis menjelaskan bagaiman kedudukan Firman (Logos) itu dalam pandangan masyarakat Yahudi yang telah dipengaruhi oleh pola pikir Yunani. Dalam masyarakat Yahudi, Firman mempunyai kedudukan penting dalam seluruh peristiwa hidup mereka. Bagi mereka Firman bukan sekedar kata-kata, tapi sesuatu yang berdaya cipta dan memberi hidup (80). Ini sejalan dengan pandangan orang Yunani tentang Firman (Logos), yang meyakininya sebagai kekuatan Allah sendiri. Selanjutnya pemaparan Yohanes tentang Firman menjadi manusia, ingin memperkenalkan bahwa Yesus itulah Firman itu sendiri.

Dari seluruh pemaparan tentang peristiwa di seputar kelahiran Yesus ini, penulis mencoba untuk menjawab berbagai pertanyaan di seputar kelahiran Yesus itu. Dengan demikian buku ini sangat membantu umat memahami peristiwa iman yang setiap tahun dirayakan. Buku ini sekaligus dapat digunakan sebagai kursus ringkas dalam memahami Kitab Suci. (St. Sigit PranotoSCJ)