Senin, 11 April 2011

Mempersiapkan Kaum Muda

Data Buku:
Judul Buku : Orang Muda Mencari Jati Diri
Penulis : Paul Suparno SJ

Penerbit : Kanisius
Cetakan : I, 2011
Tebal : 336 halaman

”Dion paling suka membanggakan diri dengan mobil barunya. Tentu bukan ia yang membeli, tetapi dari papinya yang memang sangat kaya. Berkali-kali ia berganti model mulai dari Jazz sampai BMW. Dengan mobil baru itulah, ia mencoba mencari pacar, siapa tahu cewek-cewek zaman sekarang tergiur dengan mobilnya dan akhirnya takluk kepadanya. Yang menarik, cewek yang sungguh cerdas dan mengerti siapa Dion tidak tertarik. Memang dari kepribadiannya Dion tidak menarik sama sekali, ia tidak supel, otaknya tidak berisi, dan juga cara bergaulnya kurang bernilai tinggi. Bagi cewek elite, ia sama sekali tidak berarti; bagi cewek biasa pun, tidak mengesankan” (116).

Kisah di atas merupakan salah satu ilustrasi yang dipakai penulis sebelum membahas sebuah tema yang disajikan dalam buku ini. Dengan gaya penulisan yang khas, penulis mengajak pembaca, khususnya para kaum muda untuk menyadari berbagai tantangan zaman serta memberikan masukan bagaimana sikap yang harus dilakukan.

Buku ini berisi 56 topik tentang berbagai segi yang seringkali dihadapi kaum muda. Setiap topik dapat dibaca lepas sehingga pembaca bisa memilih sesuai dengan kebutuhan. Bahan-bahan yang ada juga bisa dipergunakan dalam permenungan bersama dalam kelompok di mana pertanyaan refleksi yang disajikan di setiap akhir topik bisa digunakan sebagai penuntun sharing pengalaman hidup yang dapat memperkaya anggota.

Secara garis besar, buku ini dikelompokkan dalam tiga bagian. Pertama, berisi sejumlah topik tentang karakter, sikap, dan semangat yang perlu dikembangkan kaum muda berhadapan dengan tantangan di zaman modern ini. Kedua, berisi sikap dan karakter yang perlu dikembangkan dalam berhadapan dengan orang lain, masyarakat, negara dan alam lingkungan. Ketiga, berisi pencarian dasar religius dalam batin, kemampuan melatih kejernihan batin, terutama dalam mengerti tawaran yang baik dan buruk, dan bagaimana dapat mengerti kehendak Tuhan.

Buku ini sangat cocok dibaca oleh kaum muda dalam mencari jati diri dalam dunia yang penuh dengan tawaran nilai ini. Dengan membaca buku ini, diharapkan kaum muda dapat memegang nilai hidup yang kuat, kritis, peka terhadap berbagai tawaran, dan bijak dalam membuat keputusan. Selain itu, buku ini juga cocok dibaca oleh para orangtua untuk lebih memahami pergulatan kaum muda, sehingga diharapkan membangun sebuah keterbukaan dalam diri orangtua terhadap kaum muda. (St Sigit Pranoto SCJ)

*Dimuat dalam majalah HIDUP, 23 Januari 2011, halaman 40

Memperkenalkan Kitab Suci Melalui Komik

Data Buku:

Judul Buku : Komik Kitab Suci

Ilustrator : Jose Perez Montero

Teks : Ben Alex

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2010

Tebal : 40 halaman


Komik bisa menjadi sarana efektif untuk menyampaikan sebuah pesan. Semua jenjang usia, khususnya anak-anak, komik menjadi bahan bacaan naratif yang menarik. Sebuah pesan pada umumnya akan lebih mudah ditangkap bila disampaikan dengan ilustrasi yang menarik.

Demikian juga dengan pesan Kitab Suci, kiranya akan lebih mudah ditangkap bila disajikan dengan ilustrasi yang menarik. Memang, selama ini sudah banyak diterbitkan buku-buku ulasan tentang Kitab Suci. Namun hal itu dirasa belum dapat dijangkau oleh segala jenjang usia, khususnya anak-anak. Ini menjadi keprihatinan bersama.

Hadirnya buku Komik Kitab Suci ini menjadi sebuah jawaban dalam mengatasi keprihatinan bersama itu. Buku ini berisi 16 kisah dari Perjanjian Lama dan 13 kisah dari Perjanjian Baru. Kisah-kisah yang diangkat antara lain: kisah awal mula dunia, kejahatan manusia, sejarah bangsa terpilih, penebusan umat Allah, pemberitaan Injil dan penciptaan dunia baru.

Semua kisah dikemas secara ringkas, dihiasi aneka ragam kreasi, diolah selaras dengan pola pikir dan bahasa anak-anak. Gambar-gambar ilustrasi dikemas dengan warna-warna yang sesuai sehingga pembaca, khususnya anak-anak bisa lebih mudah masuk dalam alur kisah. Hal ini memudahkan anak untuk menangkap dan mengingat pesan yang disampaikan. Dengan demikian, anak-anak diharapkan akan semakin mencintai Kitab Suci.

Selain bagi anak-anak, buku ini juga cocok bagi jenjang usia lainnya yang ingin membaca kisah dalam Kitab Suci dengan lebih rileks. Sebab itu, buku Komik Kitab Suci ini juga menjadi sarana bagi mereka yang ingin menyegarkan diri dengan kisah rohani yang ada dalam Kitab Suci. (St Sigit Pranoto SCJ)

*Dimuat dalam Majalah HIDUP, 20 Februari 2011, halaman 47.


AGAMA SUMBER KEJAHATAN?

Data Buku:
Judul : Benarkah Agama Berbahaya?

Judul Asli : Is Religion Dangerous?

Penulis : Keith Ward

Penerjemah :L. Prasetya Pr

Penerbit : Kanisius

Cetakan : 1, 2009

Tebal : 271 hal


Apa yang dipaparkan oleh Keith Ward dalam buku ”Benarkah Agama Berbahaya?” ini merupakan sebuah pembelaan terhadap agama yang seringkali dianggap sebagai sumber kejahatan dan kekerasan. Penulis mengulasnya dari berbagai sudut pandang: sejarah, filsafat, sosiologi, dan psikologi.


Secara beruntun, penulis menyampaikan argumentasinya bahwa agama bukanlah seperti yang dikatakan oleh banyak orang: agama menakutkan dan harus dilawan karena merusak pikiran, agama menuntun ke terorisme dan kekerasan, keyakinan-keyakinan religius itu irasional dan imoral, dan tidak ada tempat dalam masyarakat sekular modern. Responnya terhadap berbagai pandangan banyak orang tersebut dibagi dalam empat bagian pokok: agama dan kekerasan, rasional dan tidaknya keyakinan religius, moral atau tidaknya keyakinan religius, dan sisi positif-negatif dari agama.

Agama dan Kekerasan

Akhir-akhir ini sering terjadi tindak kejahatan yang dilakukan oleh orang yang mengatasnamakan agama. Ambil contoh saja terorisme yang terjadi di Indonesia. Berbagai kasus bom bunuh diri yang mengatasnamakan pembelaan terhadap agama, konflik yang melibatkan dua kelompok besar – yang dianggap mewakili kepentingan agama tertentu, dan berbagai contoh kasus lain yang dianggap sebagai persoalan antaragama.

Adanya berbagai kasus tersebut mau tak mau menghantarkan orang pada suatu kesimpulan bahwa agama hanyalah menjadi sumber konflik. Dengan kata lain, agama menjadi penyebab utama terjadinya kekerasan atau tindak kejahatan. Benarkah anggapan tersebut?

Menanggapi hal ini, penulis mencoba menganalisanya dari segi sosiologis dan psikologis. Dari aspek sosiologis, agama seringkali dijadikan sebagai identitas sosial suatu masyarakat yang dapat memainkan peranan dalam kerasnya konflik-konflik sosial. Apabila agama dijadikan sebagai identitas sosial, maka mau tak mau konflik-konflik sosial dikaitkan dengan agama tertentu.


Berkaitan dengan ini, penulis menyampaikan argumen untuk melawannya dengan analisa sejarah: ”Agama terlibat dalam kekerasan, khususnya di mana agama menjadi penanda identitas dalam situasi konflik sosial. Agama sering menjadi suara moderasi dan rekonsiliasi, itulah peran yang benar, seperti dokumen-dokumen Kitab Suci dari semua agama besar dunia. Tanpa agama, bukti sejarah menunjukkan dengan jelas, bahwa masih ada perang dan kekerasan di muka bumi..... Dengan agama ada kesempatan bahwa, sekurang-kurangnya tempat, untuk sementara, dan lebih luas, kebaikan akan berjalan baik di muka bumi.” (108).


Agama dan Rasio


Di era sekular modern ini agama banyak ditinggalkan. Seakan agama tak menyumbang apa-apa bagi peradaban manusia, justru sebaliknya, agama menjadi penghambat berkembangnya peradaban manusia yang semakin modern. Sebagai bukti, gereja-gereja mulai kosong, masjid-masjid mulai sepi, dan berbagai tempat keagamaan mulai surut dengan orang-orang yang akan beribadah.


Fenomena ini menjadi keprihatinan bagi banyak tokoh agama yang mencoba untuk tetap setia. Keprihatinan ini dinilai sebagai akibat dari rasionalisasi yang semakin meluas. Banyak orang mempertanyakan kembali apakah doktrin-doktrin dalam agama masuk akal atau tidak. Pada umumnya, mereka yang mulai meninggalkan agama menganggap bahwa doktrin dan berbagai ajaran dalam agama tidak masuk akal, bahkan justru menjadi penghambat dari kebebasan manusia.


Buku Benarkah Agama Berbahaya? ini juga mencoba mengulas keprihatinan ini. Penulis memberikan berbagai argumen filosofis dan psikologis untuk menerangkan bahwa agama masih tetap mempunyai peran penting bagi hidup manusia dewasa ini. Agama tetap masuk akal dan berguna.


Apakah Agama Berbahaya?


D
engan berbagai bukti yang diungkapkan dalam buku yang berjudul asli Is Religion Dangerous? ini, penulis mengutip uraian Karl Marx bahwa agama merupakan hati yang berbela rasa terhadap dunia yang dingin dan tanpa hati. Kendati banyak kejahatan yang terjadi atas nama agama, namun penulis yakin bahwa tanpa agama bumi ini akan menjadi jauh lebih buruk, dan hanya akan ada sedikit harapan bagi masa depan. (St Sigit Pranoto SCJ)

*Dimuat dalam Jurnal FENOMENA Vol VII?No.1/2010, halaman 80-81

Sebuah Langkah menjadi Pembimbing Retret

Data Buku:

Judul Buku : Biji Sesawi Memindahkan Gunung

Penulis : Drs. Antonius Purbiatmadi, M.A. dan Marcus Supriyanto, S.Si.

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2010

Tebal : 272 halaman


Seringkali orang terbelenggu dengan paradigma yang mengatakan bahwa pembimbing retret itu harus berasal dari kalangan biara, baik pastor, bruder, frater maupun suster. Anggapan tersebut justru membuat banyak umat kesulitan untuk mendapatkan tim pembimbing retret. Maka dari itu, paradigma yang ada perlu diperbaharui: pembimbing retret tidak harus dari kalangan biara.

Hadirnya buku ini merupakan salah satu jawaban atas keprihatinan yang ada. Buku ini memberikan sebuah jalan keluar untuk menghadapi kendala yang ada. Dan dengan buku ini, kaum awam diajak untuk menjadi pemandu retret.

Secara khusus, buku ini berisi sebuah latihan dan panduan bagi seorang pembimbing retret. Panduan yang diberikan merupakan hasil dari pengalaman para penulis selama menjadi pendamping retret. Secara khusus, buku ini menghadirkan sebuah latihan praktis untuk mendampingi pelajar dan kaum muda dalam mengembangkan talenta secara terarah.

Sebagai sebuah buku panduan retret, para penulis menyajikan secara lengkap hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan retret. Ada dua bagian yang disajikan dalam buku panduan ini. Bagian pertama berisi sebuah contoh tentang hal-hal yang sifatnya teknis dan praktis dalam retret: tatalaksana retret, tata tertib retret, dan jadwal acara retret.

Sedangkan bagian kedua memberikan beberapa contoh panduan materi yang disusun secara berkesinambungan dalam mendampingi pelajar dan kaum muda mengembangkan talenta secara terarah. Isi dari materi yang ada begitu kompleks, yakni dari Kitab Suci yang dipadukan dengan berbagai bidang ilmu lain seperti psikologi terapan, ilmu kesehatan, moral dan situasi aktual remaja saat ini.

Selain itu, disajikan pula beberapa contoh permainan dan lagu penyegar serta buku harian peserta retret. Maka dari itu buku ini sangat cocok dipakai oleh siapa saja yang berminat untuk menjadi pendamping retret atau pun mereka yang sudah lama terjun sebagai pendamping retret. Akhirnya, melalui buku ini diharapkan agar kesulitan mencari pendamping retret semakin dapat teratasi dengan mudah karena munculnya pendamping-pendamping retret yang baru. (St Sigit Pranoto SCJ)

*Dimuat dalam Majalah HIDUP, 04 Juli 2010, halaman 38

Memaknai Penderitaan

Data Buku:
Judul Buku : Question of Faith? Why do People Suffer?
Mengapa Manusia Menderita?
Penulis : James Jones

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2010

Tebal : 112 halaman


”Seringkali, kita mulai berdoa dengan sungguh-sungguh hanya ketika bencana melanda kita. Kita melupakan segala perdebatan yang mendukung atau melawan keberadaan Allah dan berteriak meminta supaya Allah menyelamatkan kita. Namun, jika penderitaan tetap berlanjut meski kita berdoa, kita meragukan keberadaan Allah atau mempertanyakan Allah macam apakah Dia sebenarnya? Hal itu membuat penderitaan kita lebih tak tertanggungkan lagi. Mengapa Allah tidak mengatakan sesuatu pun? Apakah Ia ada? Apakah Ia peduli?” (hal. 52)

Paragraph di atas merupakan salah satu cuplikan dari salah satu pembahasan pertanyaan atas keberadaan Allah ketika manusia menderita. Memang, penderitaan seringkali membuat kita bertanya-tanya di manakah Allah, yang banyak digambarkan sebagai Bapa yang baik hati itu. Mengapa Allah yang penuh kasih itu membiarkan penderitaan terjadi? Apakah Allah menciptakan kejahatan? Atau, apakah Allah sengaja membiarkan ciptaanNya menderita?


Berbagai pertanyaan di seputar penderitaan seakan tiada henti-hentinya terlontar dari dalam diri kita. Ironisnya, kita cenderung menyalahkan Allah sebagai penyebab utama penderitaan itu sehingga perlahan-lahan kita meninggalkan Allah.


Dalam buku ini, James Jones secara runtut menguraikan fakta penderitaan itu dan mengajak pembaca untuk menemukan makna terdalam di balik derita. Ia menguraikannya secara sederhana dan mudah dipahami dalam delapan bagian. Masing-masing bagian selalu diawali dengan sebuah tesis singkat yang dapat membantu pembaca memahami gagasan setiap pembahasan.


Selain itu, pembaca juga semakin terbantu dalam memahami isi setiap pembahasan melalui gambar-gambar ilustrasi yang humanis. Disajikan pula kutipan-kutipan dari banyak tokoh dan kitab suci sebagai pendukung yang disusun secara menarik sehingga pembaca bisa menemukan inspirasi bagi hidupnya.


B
uku ini cocok bagi siapa saja yang ingin memaknai penderitaan secara lebih mendalam. Berbagai pertanyaan kita seputar penderitaan yang seringkali membuat kita ragu akan keberadaan Allah, akan sedikit terjawab melalui buku ini. Dan akhirnya, buku ini sangat dianjurkan untuk mendampingi mereka yang sedang berada dalam keadaan krisis iman karena penderitaan yang dialaminya. (St.Sigit Pranoto SCJ)

*Dimuat dalam Majalah Hidup, 23 Mei 2010, halaman 34.

Memahami Pembaharuan Karismatik Katolik

Data Buku:
Judul Buku : Pembaharuan Karismatik Katolik, Rahmat dan Tantangan
Penulis : Rm Yohanes Indrakusuma O.Carm

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2010

Tebal : 176 halaman

Dalam Gereja Katolik berkembang kelompok Pembaharuan Karismatik Katolik. Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK) yang mulai di Pittsburgh, Amerika Serikat pada 19 Februari 1967 ini sebenarnya berawal dari sekelompok kecil yang berjumlah sekitar 30 orang yang mempunyai keprihatinan terhadap kemerosotan semangat kerohanian yang melanda Gereja Katolik setelah Konsili Vatikan II. Dan dalam waktu yang relatif singkat, kelompok ini berkembang begitu pesat hingga dewasa ini dan menyebar hampir di seluruh belahan dunia.

Keberadaan PKK di Indonesia sebenarnya dimulai di dua tempat yakni di Malang pada tahun 1975 dan di Jakarta pada tahun 1976. Itu pun juga berawal dari sebuah kelompok kecil. Namun kelompok kecil itu akhirnya juga berkembang luas di berbagai daerah lain. bahkan saat ini hampir bisa dipastikan bahwa di setiap keuskupan di Indonesia terdapat kelompok tersebut.

Kendati keberadaan PKK sudah menyebar di berbagai tempat, akan tetapi belum semua orang mengetahui seluk-beluk dari kelompok ini. Bahkan tak jarang mempunyai pandangan negatif terhadap kelompok ini. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran PKK di berbagai keuskupan di Indonesia mendapat tanggapan yang berbeda-beda. Ada keuskupan yang terbuka, namun juga ada keuskupan yang tertutup.

Secara lengkap, informasi seputar Pembaharuan Karismatik Katolik disajikan dalam buku ini. Penulis, Rm Yohanes Indrakusuma O.Carm, yang merupakan pioner dari kelompok ini menuturkannya secara lengkap dalam buku ini, mulai dari sejarah dan perkembangan, dimensi teologis PKK, hakekat dan tujuan PKK, kharisma-kharisma, tantangan dan peluang dari PKK. Pembaca juga diajak untuk mengenal lebih dekat Putri Karmel, CSE dan Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) yang didirikannya.

Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin mengenal lebih dalam dan lengkap tentang Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK). Dengan demikian melalui penjelasan di dalamnya, pembaca dapat memberikan penilaian terhadap PKK ini secara lebih obyektif. Demikian juga bagi mereka yang sudah menjadi bagian dari PKK akan semakin memperdalam pengetahuannya tentang PKK ini secara pribadi. (St Sigit Pranoto SCJ)

* Dimuat dalam Majalah Utusan No.03 Tahun Ke-60, Maret 2010, halaman 31

Memaknai Pengalaman Sehari-hari

Data Buku:
Judul Buku : Pelita Jiwa
Penulis : I. Wawang Setyawan, SS

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2010

Tebal : 136 halaman


“Pengalaman adalah guru yang bijaksana. Di dalamnya kita dapat belajar untuk terus-menerus menjadi pribadi yang makin baik dari hari ke hari. Melaluinya pelita jiwa kita menjadi bersinar terang. Dan akhirnya mampu menerangi kehidupan kita pribadi dan sesame di sekitar kita serta alam semesta.”

Kutipan di atas diambil dari tulisan yang berada pada cover belakang buku Pelita Jiwa karya I Wawang Setyawan SS. Buku sederhana ini berisi buah renungan dan refleksi penulis atas berbagai peristiwa hidup yang dialaminya sehari-hari. Dengan jeli penulis mengangkat hal-hal yang nampak begitu sepele dalam hidup kita.

Dalam buku Pelita Jiwa ini, penulis mengangkat 21 hal yang ada di sekitar kita, seperti patung, mie instan, laut, batu karang, bunga teratai, dll; serta memberikan pemaknaan yang begitu mendalam bagi hidup kita sehari-hari. Sebagai bahan permenungan, penulis juga memberikan kutipan-kutipan kitab suci yang sesuai dengan topik yang diangkat sehingga dapat memberikan siraman rohani bagi para pembaca.

Tulisan-tulisan di dalamnya juga inspiratif, terlebih karena disertai ilustrasi yang dapat mengantar pembaca pada topik yang direfleksikan. Di setiap akhir tulisan, penulis juga mengutip kata-kata bijak dari tokoh-tokoh terkemuka sehingga dapat dijadikan pedoman hidup para pembacanya.

Kendati ditulis dengan bahasa yang cukup sederhana, buku ini sarat makna teologis dan filosofis dalam hidup beriman. Sebab itu pula, buku ini dapat dibaca siapa saja tanpa memandang latar belakangnya. Buku ini baik juga digunakan sebagai bahan renungan bersama dalam kelompok atau pun bahan refleksi pribadi, sehingga dapat memperdalam pengetahuan dan penghayatan iman.(St Sigit Pranoto SCJ)

*Dimuat dalam Majalah Hidup, 28 Februari 2010, halaman 24